Saya pernah mendengar sebuah cerita. Bayangkan kita ada di jaman baheula. Jaman-jaman kerajaan.
Alkisah di sebuah desa miskin, hiduplah seorang petani miskin (secara materi), dengan seorang anak laki-lakinya. Mereka hanya berdua. Harta mereka hanyalah sawah dan seekor kuda yang digunakan untuk membajak.
Suatu hari kudanya kabur. Bayangkan petani miskin, hartanya hanya kuda untuk membajak sawah, dan kuda itu kabur. Nah, tetangga-tetangganya mendengar itu. Kemudian tetangga tersebut mengunjungi si petani. “Eh, kita datangin yuk si pak petani untuk menghibur”. Tetangga tersebut hanya datang untuk menghibur. Tapi tidak membantu
Maka ceritanya mereka berkunjung ke pak Petani. “Pak petani, kami dengar soal musibah yang anda dapatkan. Kuda anda satu-satunya kabur. Kami turut simpati mendengar musibah ini”. Apa jawab pak petani?
“Apakah ini musibah? apakah ini keberuntungan? siapa yang tahu?”
Tetangganya terheran sambil bergumam dalam hati. “Haah, aneeh pak petani ini. Mungkin ini orang sudah tua, sudah pikun kali ya. Mana ada kehilangan kuda itu bisa dibilang mungkin beruntung?. Tapi ya sudahlah”. Lalu para tetangga pamit. Mereka hanya menjalankan tugas sebagai tetangga.
Beberapa hari kemudian, kuda yang kabur tadi, kembali lagi ke pak petani membawa belasan kuda liar. Kuda-kuda tersebut nongkrong di halaman rumah pak petani. Ujug-ujug pak petani mendapatkan harta banyak. Berupa belasan kuda liar. Para tetangga melihat hal itu “Huh, pak petani sekarang jadi tajir. Dalam semalam”. Lalu para tetangga tersebut datang kembali ke rumah pak petani
“Waah pak petani, siapa sangka kuda yang lari tersebut datang lagi dengan membawa belasan kuda liar. Selamat ya. Sekarang jadi juragan kuda dalam semalam”. Pak petani tersebut menjawab
“Apakah ini musibah? apakah ini keberuntungan? siapa yang tahu?”
Yang namanya kuda liar, tidak bisa langsung dipakai. Ada proses menjinakkan. Jadi yang menjinakkan itu putranya pak petani.
Putranya berusaha menjinakkan dengan naik salah satu kuda liar. Eh, kuda liarnya melawan, berontak, putranya jatuh, kakinya patah, dan cacat seumur hidup. Para tetangga datang lagi
“Pak petani tua, aduuuh, kami mendengar apa yang terjadi. Kami turut bersimpati. Putra bapak satu-satunya kok malah jadi orang cacat”. Apa jawab pak petani?
“Apakah ini musibah? apakah ini keberuntungan? siapa yang tahu?”
Pada saat itu, para tetangga sudah biasa dengan jawaban tersebut. Jawaban template
Beberapa hari kemudian, dari kejauhan, terlihat kepulan debu. Lama-lama terdengar suara hentakan kuda “gedebak gedebuk gedebak gedebuk”. Warga desa penasaran dan mengintip dari balik jendela. “Ada apakah gerangan? eh ternyata pasukan kerajaan”. Satu pasukan kerajaan datang dipimpin oleh jendralnya. Mereka berhenti di desa itu. Kemudian sang jendral bilang
“Kumpulkan semua warga desa. Ada berita dari raja. Pengumuman penting”. Semua warga desa datang dan mendengarkan. Kemudian sang jendral membaca titah raja. “Kerajaan sedang dalam keadaan perang, maka semua laki-laki yang sehat harus sekarang juga meninggalkan desa dan bergabung berperang”. Titah tersebut menekankan “hanya yang sehat”. Otomatis putra pak petani tidak ikut. Karena kondisinya sedang tidak sehat.
Maka tetangga datang kembali ke pak Petani. Mereka meratap/curhat. Mereka bilang
“Bapak beruntung sekali. Kami tidak tahu apakah putra kami akan pulang kembali atau tidak. Padahal putra kami akan menjadi penerus keluarga”. Mereka (tetangga) semua menangis. “Ya ampun pak. Siapa yang sangka. Musibah itu ternyata membuat putra bapak tidak perlu pergi berperang”. Apa jawab pak petani? kalian semua pasti sudah tahu 🙂
“Apakah ini mukjizat? apakah ini keberuntungan? siapa yang tahu?”
Lalu cerita berakhir
Dari cerita di atas, saya yang mendengar cerita tersebut mencoba mengambil ibroh. Belajar untuk jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Apakah kondisi kurang “mengenakkan” saat ini musibah? atau keberuntungan? siapa yang tahu?
Begitu juga sebaliknya. Hati-hati dengan kesenangan atau “keenakan” saat ini. Tiba-tiba dapat posisi puncak, dapat uang yang begitu banyak, dapat kekuasaan, dimudahkan ini itu. Apakah ini musibah? apakah ini keberuntungan? siapa yang tahu?
Selalu waspada, ikhlas, sabar, dan ikhtiar menjalani. Mudah-mudahan dimudahkan dan dituntun jalannya
Apa yang menurut manusia baik, belum tentu baik di mata yang maha Kuasa. Apa yang menurut manusia buruk, belum tentu buruk di mata yang maha Kuasa.