Antara Semangat Menggunakan Linux dan Menghargai Perbedaan

Posted by

Awal saya mengenal dan mempelajari Linux ketika kelas X SMK di Tangerang. Waktu itu saya diajarkan instalasi dasar Linux Slackware jika saya tidak salah ingat. Untuk masuk ke desktop saja, saya harus mengetikkan “startx” dan muncullah tampilah gui. Ngga tau deh waktu itu DE nya menggunakan apa. Yang jelas, bisa masuk dan ada gui nya.

Lanjut dikelas XI, mempelajari Linux masuk pada tahapan perintah dasar Linux. Seperti nano, cat, echo, cd dan yang lainnya. Waktu itu, Linux yang digunakan adalah Ubuntu. Pelajaran yang lain, lanjut pada tahapan tata cara membuat DNS server, akses remote SSH, Squid proxy dan web server untuk persiapan Ujikom nantinya.

Mempelajari Linux mulai intensif, khususnya Linux server ketika masuk di kelas XII. Saya pun jarang langsung pulang kerumah dan lebih sering nongkrong di lab selepas pulang sekolah.  Di bimbing oleh pak Budi Sumawijaya dan kakak kelas saya pak Heru. Kebetulan, saat itu juga akan ada event LKS SMK dan event tersebut juga menjadi salah satu motivasi saya untuk lebih sering latihan. Mulai dari merakit PC hingga instalasi dan konfigurasi server sesuai dengan contoh soal LKS di tahun sebelumnya.

Menggunakan Linux ada kesenangan tersendiri. Apalagi ketika menggunakan command line dan bisa masuk pada pc/server lain dengan akses SSH. Jail ketika praktek di lab pun pernah dilakukan. Dengan modal mengetahui username, password, IP komputer teman yang lain dan SSH server yang sudah terinstall dan aktif, saya bisa remote pc teman tersebut dan me-restart atau men-shutdown pc-nya. Perintahnya, cukup ketikkan reboot atau halt 😀 . Sudah bisa seperti itu saja, rasanya sudah seperti hacker yang dapat membobol pc orang lain. Hehehe

Dengan menggunakan Linux yang open source software dan baru menggunakan beberapa tahun saja, ketika bertemu orang yang menggunakan Windows pikiran saya langsung negatif. “Yaah, masih pake Windows. Pake Linux dong. Yaaah, pake bajakan. Pake Open Source dong.” Pikiran tersebut memang tidak “begitu” salah dan jiwa anak muda saya yang masih menggebu-gebu ketika baru menggunakan Linux. Namun yang saya rasakan waktu itu, sepertinya ada “kesombongan” yang sedang terjadi pada hati atau diri saya. Menganggap orang yang menggunakan OS Windows ngga keren, cupu dan mungkin newbie. Ngga bisa pake command line dan lain-lain.

Sumber gambar : https://pixabay.com

Padahal, jika berpikiran positif, “Bisa jadi orang tersebut menggunakan Windows yang original. Aplikasi yang diinstall semuanya berbayar dan ori. Bisa jadi pekerjaan keseharian orang tersebut harus menggunakan Windows. Dan ada kesulitan jika menggunakan OS lain. Pekerjaannya menjadi lebih cepat selesai jika menggunakan Windows dan lain-lain.” Pikiran dan mental “miskin” saya yang akhirnya membentuk statement negatif. Setiap pengguna Windows, pasti bajakan. Termasuk dengan aplikasi-aplikasi didalamnya. Toh Jika memang benar menggunakan bajakan, ya seharusnya didoakan agar dimampukan untuk membeli yang asli atau perlahan diarahkan menggunakan OSS. Sedangkan, menurut sepemahaman saya, penggunaan open source itu agar mengurangi bajakan. Jika lisensi nya beli dan ori, ya bukan bajakan. CMIIW

Penggunaan software, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Jika butuh software tersebut dan hanya bisa berjalan di OS tertentu dan kemampuan untuk belinya ada, tidak ada salahnya untuk membelinya :). OS Linux sendiri, saat ini jumlahnya sangat banyak. Dari huruf A sampai Z ada. Dari kebutuhan untuk server ataupun desktop ada. Khusus untuk scientist ataupun gaming ada. Kenapa bisa banyak seperti itu? karena hakikatnya kita semua berbeda yang keinginan dan kebutuhan masing-masing tentu berbeda juga. Jadi, perbedaan itulah yang harus kita hargai :D. Witwiw. Prikitiw 😀

Saya sendiri saat ini menghindari penggunaan software bajakan dan mencari alternatif lain. Sehari-hari menggunakan Linux openSUSE dan ElementaryOS di laptop Lenovo dan MacOS di Macbook Air :). Dan sesekali menggunakan Windows untuk kebutuhan tertentu yang hanya bisa dijalankan di Windows. Saya sadar hanya sebagai pengguna dari banyaknya software yang dibuat oleh para developer diluar sana. Tak baik apabila saya mencela atau bahkan menjelekkan sesuatu yang saya sendiri tidak bisa membuatnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *