Membiasakan Membaca

Posted by

Saya membeli buku karya Fahd Pahdepie. Judulnya “Muda, Berdaya, Karya Raya”. Buku ini saya beli di Gramedia ketika ke Semarang. Itu juga diajak pak Vavai. Di hari Sabtu. Setelah pekerjaan disalah satu klien selesai di hari Jumat nya. Karena hari Sabtu tidak ada agenda dan bosan hanya di hotel saja, maka saya beserta pak boss pergi ke butik disekitar Simpang Lima Semarang untuk melihat-lihat dan memesan jas Pria. Kemudian lanjut ke Gramedia.

Akhir-akhir ini saya berusaha untuk baca buku. Untuk menambah wawasan ataupun motivasi. Khususnya perihal self improvement. Memang, saya bukan tipe orang yang sengaja meluangkan waktu untuk membeli buku dan membacanya. Meskipun waktu kecil dulu, saya ingat dan pernah menuliskan “membaca buku” adalah salah satu hobi saya. Ketika disuruh untuk mengisi biodata. Pada kenyataannya, saya jarang baca buku πŸ˜€ . Meskipun ada buku bacaan, dibaca ketika sesempat nya saja.

Buku terakhir yang saya baca adalah “The power of mimpi”. Buku karangan Akbar Kaelola. Buku tersebut adalah bukunya pak boss ketika dulu masih sering pergi berdua menuju kantor klien. Buku tersebut dititipkan kesaya yang nantinya dibaca ketika di kendaraan umum. Kadang pak boss lupa dan bukunya saya bawa ke rumah πŸ˜€

Gambar dari Freepik

Kembali ke buku “Muda, Berdaya, Karya Raya” yang saya beli. Buku tersebut saya beli setelah membaca bagian belakang dari buku tersebut. Kemudian tertarik untuk membacanya. Tentang fase usia dua puluhan yang konon merupakan fase terberat dalam hidup. Tentang penemuan jati diri. Tentang menemukan kompas untuk melangkah ke masa depan. Dilema antara bersenang-senang atau bekerja keras?. Bekerja atau berwirausaha?. Memanjakan diri atau berinvestasi?. Membahagiakan diri sendiri dulu atau orang tua dan keluarga?. Pacaran dulu atau menikah saja?

Isi dari buku tersebut merupakan perjalanan hidup dari penulis. Yang mana ada bagian yang mirip dengan kehidupan yang saya alami. Contohnya perihal “jangan sepelekan kata-kata”. Saya ingat waktu masih sekolah SMK di Tangerang, saya sempat berujar sambil bercanda dengan teman-teman. “Suatu saat nanti, photo saya akan terpampang disekolah ini”. Selang beberapa bulan, benar saja, ketika saya mengikuti lomba LKS dan dinyatakan juara 2 tingkat nasional, sekolah menampilkan photo saya di mading dan didepan sekolah berupa spanduk. Spanduknya cukup besar. Saya jadi siswa yang cukup “famous” dilingkungan sekolah. Ketika itu saya dinobatkan menjadi “student of the year”. Cukup heboh memang.

Respon dari sekolah cukup baik. Beberapa kebutuhan untuk lab TKJ menjadi cukup mudah dalam pengajuan dan approvalnya. Saya juga diberikan sejumlah uang atas prestasi tersebut. Ada juga beberapa Politeknik yang memberikan beasiswa dengan ikatan dinas. Meskipun ketika saya coba kontak, sudah terlambat πŸ˜€ . Sebuah kata-kata yang terlihat sepele memang. Dan diucapkan dalam keadaan sedang bercanda. Namun menjadi kenyataan.

Isi yang menarik lainnya dari buku tersebut adalah ketika menceritakan Buya Hamka. Ketika Buya Hamka didatangi seorang laki-laki yang heran tentang tanah suci. “Masya Allah, Buya. Sungguh tidak disangka. Ternyata di Makkah juga ada pelacur”. Buya Hamka tampak tenang dan menanggapi keheranan sipenanya sambil menjawab, “Saya baru pulang dari Los Angeles dan New York. Masya Allah, disana tidak ada pelacur”. Si penanya merasa tidak percaya pada pernyataan yang baru saja dikatakan Buya Hamka. “Ah, tidak mungkin, Buya. Di Makkah saja ada pelacur. Di Amerika Serikat pasti lebih banyak lagi”. Buya Hamka mengangguk tenang. “Kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari” jawabnya.

Jawaban singkat dan sederhana tersebut memiliki pengertian yang cukup mendalam. Dimana kita hanya akan bertemu dengan apa-apa yang dicari. Meskipun memang benar adanya di Amerika ada PSK. Namun ketika Buya Hamka kesana, Buya tidak menemukan PSK tersebut. Begitu juga sebaliknya dengan si penanya.

Memang benar adanya bahwa buku merupakan jendela ilmu yang berisi berbagai pengetahuan. Dari membaca buku ataupun artikel dari internet, wawasan saya bertambah. Terbukti ketika saya ke Malaysia kemarin. Yang orang Malaysia nya sendiri agak heran. Kenapa saya tahu kondisi disana. Yang mana informasi seputar kondisi Malaysia tersebut saya dapatkan dari membaca blognya pak Dahlan Iskan. Di https://disway.id.

Selain itu, dengan membaca buku, saya menjadi termotivasi agar lebih baik lagi. Dan yang terakhir menjadi lebih bijak. Sayapun berniat untuk membaca lagi buku yang lain dan mengupayakan minimal 1 bulan 1 buku harus saya baca. Semoga tercapai πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.