Haji atau Umroh

Posted by

Diakhir tahun kemarin, saya mudik terlebih dahulu ke kampung halaman. Mumpung ada waktu libur dan hari kejepit ditanggal 24 Desember 2018. Meskipun tanggal tersebut tertulis cuti bersama. Namun informasi cuti bersama ini sedikit beda dengan Kalender yang saya punya dibandingkan dengan Kalender yang lain. Di kalender saya, cuti bersama tertulis di tanggal 26 Desember 2018. Tentu saya agak senang. Karena liburannya lumayan panjang. Apalagi jika mudiknya dari hari Sabtu πŸ˜€ . Tapi sayang, saya tidak bisa pulang dari hari Sabtu. Karena ada jadwal kuliah malam di sabtu malam (bukan malam minggu). Akhirnya pulang di minggu paginya.

Pulang kampung kemarin juga saya jadikan ajang untuk refreshing. Sebelum di minggu depannya melakukan upgrade sistem disalah satu klien di daerah Sudirman Jakarta. Meskipun sepulangnya dari kampung, badan saya kurang fit dan terserang flu. Maklum, perjalanan pulang dan pergi cukup macet. Tidak seperti biasanya. Mungkin karena libur panjang juga. Selain itu, AC pada bis tidak bisa diatur/dimatikan. Tipe AC yang digunakan langsung berupa lubang. Seperti AC diperkantoran.

Agenda utama mudik kali ini sebenarnya untuk memantapkan niat saya. Yang pernah saya tulis disini :Β Membaca Buku Excellent Insight dan Motivasinya. Untuk memberangkatkan kedua orang tua saya. Ke tanah suci. Memang saya pernah mudik juga di bulan November. Tidak lama setelah tulisan tersebut saya publish. Namun waktu itu saya belum berani memberitahukannya. Hanya tanya-tanya saja kepada kedua orang tua. Biasanya berapa biaya untuk umroh dan kepada siapa mendaftar. Yang dijawab oleh kedua orang tua apa adanya. Dan tanya-tanya juga kepada orang yang bekerja di KUA. Berapa biaya untuk naik haji dan syaratnya apa saja. Itu juga tanya via pesan singkat. Hingga akhirnya saya kembali lagi ke Bekasi, niatan saya tersebut masih belum saya ceritakan pada kedua orang tua.

Sumber gambar dari : https://kemenag.go.id

Baru ketika pulang kemarin saya beranikan untuk memberitahukan kepada ibu saya. Tentang niatan saya tersebut. Saya coba susun strategi dan siapkan kata yang tepat. Agar tawaran tersebut tidak ditolak. Ketika beliau didapur dan sedang mencuci piring, saya hampiri dan terjadilah percakapan yang singkat.

Saya : Mih, ieu aya duit amanah. Bisa dipake daftar haji atau umroh. Jang emih jeung bapa duaan (ibu, ini ada duit amanah. Bisa digunakan untuk daftar haji atau berangkat umroh. Untuk ibu dan bapak berdua).

Ketika saya bilang seperti itu, ibu saya tersenyum πŸ™‚

Ibu saya : Nya atuh. Lamun haji mah siganateh lila. Mendingan umroh teu lila teuing (Iya atuh. Kalo haji sepertinya lama (nunggu). Mending umroh tidak terlalu lama)

Ibu saya : Tapi engke. Ditanyakeun heula ka bapa (tapi nanti. Ditanyakan dulu ke bapak)

Saya : Nya atuh. Tinggal diinfokeun bae jadina numana (Yasudah. Tinggal info saja jadinya mau yang mana (haji atau umroh))

Saya pun pergi dan masuk ke ruang depan/ruang utama. Percakapan yang cukup singkat. Mungkin tidak lebih dari 10 menit πŸ™‚

Saya info menggunakan kata “duit amanah”. Kata ini saya gunakan agar tawaran tersebut tidak ditolak. Sempat kepikiran juga untuk bilang “Ini ada duit dari pak boss, untuk dipakai daftar haji atau umroh. Tidak bisa digunakan untuk yang lain” πŸ˜€ . Jika saya gunakan kata lain, dikhawatirkan akan ditolak. Misalnya, “saya ada uang. Cukup untuk daftar haji atau berangkat umroh ibu dan bapak”. Dan jawaban dari orang tua kira-kira seperti ini “mending duit nya buat si Zaenal (adik saya) untuk berangkat mesantren”. Atau “ibu dan bapak mah ngga usah berangkat haji/umroh. Tidak apa-apa. Duitnya buat yang lain saja”. Meskipun itu hanya pikiran saya saja perihal jawaban yang akan diberikan oleh kedua orang tua, tapi saya cukup tahu kedua orang tua saya bagaimana πŸ™‚

Pada tanggal 28 Desember 2018 menjelang maghrib, tetiba handphone saya berbunyi. Ternyata panggilan WA dari adik saya. Yang kemudian terdengar suara bapak saya. Yang intinya adalah memberikan informasi bahwa pilihannya adalah daftar haji. Pilihan tersebut diputuskan setelah konsultasi pada pak Kyai guru ngaji bapak saya dan guru ngaji saya juga. Alasannya karena berangkat haji bisa sekalian dengan umroh. Namun tidak sebaliknya. Meskipun waktunya masih lama. Dan harus segera daftar secepatnya. Karena daftar tunggu yang cukup lama. Yaitu 15 tahun. Jika daftarnya dinanti-nanti, khawatir makin lama. Saya hanya bilang, “yasudah segera diurus dan disiapkan syarat-syaratnya”.

Pilihan sudah diputuskan. Meskipun sepertinya tidak sesuai dengan keinginan ibu saya. Untuk berangkat umroh yang bisa berangkat diwaktu dekat. Tidak perlu menunggu 15 tahun. Namun saya akan usahakan bisa memberangkatkan umroh terlebih dahulu. Jika biaya ditabungan saya dirasa sudah cukup. Mungkin 4 tahun lagi πŸ˜€

Saya jadi teringat pertanyaan dari pak boss ketika masih ngantor di Emerald Spring. Kira-kira antara tahun 2015-2016. Pertanyaannya simple. Jika saya mempunyai uang 50 juta maka uang tersebut akan digunakan untuk apa? . Jawaban saya waktu itu kira-kira membeli angkot, membelikan emas, melunasi cicilan motor, melunasi hutang, diberikan kepada orang tua sekian persen dan lain-lain. Sambil berhayal “kira-kira kapan itu terjadi?”Β πŸ˜€

Semoga cita-cita dan keinginan kita semua terpenuhi dan diberikan yang terbaik olehNYA. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.